Sabtu, 10 Oktober 2020

Tak Ada Kata Terlambat untuk Menjadi Penulis

Ini adalah catatan saya setelah mengikuti materi pertemuan kedua pada grup Whatsapp belajar menulis gelombang 16. Kali ini, materi disampaikan oleh Bapak Mukminin yang biasa dipanggil Cak Inin. Tentang cirriculum vitae beliau bisa dibaca melalui tautan https://cakinin.blogspot.com/2020/10/curiculum-vitae.html. Bunda Sri Sugiastuti bertindak sebagai moderator. 



Pada bagian pengantar, Cak Inin menegaskan bahwa dirinya tidak akan memberikan materi. Namun, ia hanya ingin berbagi terkait ihwal menulis buku. Ada beberapa hal yang ingin dibagikannya kepada para peserta. Yaitu, awal mula belajar menulis buku, alasan menulis buku, dan sejak kapan belajar menerbitkan buku.

Setelah memberikan pengantar, Cak Inin pun mulai berbagi kisahnya. Sebenarnya Cak Inin sudah lama memendam keinginan untuk bisa menulis buku. Namun, ia tidak tahu bagaimana cara dan memulainya. Untunglah, ia memegang prinsip dengan sangat kuat. Bahwa tak ada kata terlambat untuk menjadi penulis. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang mau berubah menjadi lebih baik.

Kata bijak yang lain yang selalu dipegangnya adalah bahwa kita sebagai manusia harus bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Karena itu, untuk menjadi seseorang kita sendirilah yang berusaha. Sebab, Allah swt tidak akan mengubah kondisi suatu kaum, kecuali bila mereka sendiri yang berusaha mengubahnya. 

Dari sini kita menjadi tahu bahwa untuk mencapai perubahan itu kita sendirilah yang harus aktif. Nah, dalam konteks ingin menjadi penulis, maka kita harus aktif belajar menulis. Di usianya yang telah mencapai 54 tahu, Cak Inin semakin menggebu untuk menjadi penulis. Apalagi, ia selalu ingat sebuah kata-kata bijak, Man jadda wajada.

Kita semua pasti sudah tahu makna dari kalimat berbahasa Arab tersebut. Maksudnya adalah siapa yang bersungguh-sungguh, maka pasti akan menemukan jalan keberhasilan. Apalagi ditambah pepatah dari nenek moyang kita, "Dimana ada kemauan, maka di situ ada jalan."

Ternyata, pepatah itu benar adanya. Suatu ketika Cak Inin ziarah haji pada Ibu Emi Sudarwati. Ternyata, Bu Emi telah berhasil menerbitkan buku sebanyak 300 lebih. Cak Inin mendapat suntikan motivasi. Bu Emi berkata, "Pak Minin segera menulis buku. Karena jenengan guru Bahasa Indonesia saya di SMP. Pasti Bisa. Apalagi Bapak sering mengantarkan orang umroh ke Makkah. Itu bisa ditulis, Pak."

"Ya mbak. Insya Allah. Saya ingin sekali. Bagaimana caranya?' Tanya Cak Inin.

"Ikut workshop di PBG Bojonegoro Pak, sesi 2. Saya daftarkan," jelas Bu Emi.

"Siap," kata Cak Inin.

Maka pada 29 Februari 2020 Pak Mukminin mengikuti pelatihan itu bersama 81 peserta lainnya dari Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan. Dari workshop ini, Cak Inin langsung praktik menulis dibimbing Bu Emi yang dulu pernah menjadi muridnya. Buku yang berhasil ditulis adalah sebuah antologi.

Rasa bangga tak dapat disembunyikan. Sejak lama ingin menulis buku dan akhirnya terwujud melalui sebuah workshop. Sukses pada pelatihan itu membuat Cak Inin semakin terpacu untuk menulis. Maka, begitu ada workshop untuk kedua kalinya, Cak Inin pun semangat untuk mengikutinya. Kali ini workshop diselenggarakan oleh TBK Khinanthi dibimbing oleh Bu Emi. Hasilnya adalah sebuah karya solo berupa buku pantun berjudul 55 Pantun Nasihat.

Usia boleh 55 tapi semangat tetap 45. Mungkin ungkapan itu sangat tepat untuk menggambarkan semangat Cak Inin dalam berburu ilmu menulis. Pasalnya, begitu usai dari Khinanthi, ia langsung bergabung dengan grup whatsapp belajar menulis bersama OmJay gelombang delapan.

Ada banyak narasumber hebat di grup menulis yang dikomandani Omjay. Beberapa di antaranya sangat berkesan bagi Cak Inin. Diantaranya adalah Bu Sri Sugiastuti atau yang juga dikenal sebagai Bu Kanjeng. Tentang kisah belajarnya, ia tuliskan dalam sebuah buku antologi berjudul Semangat Menulis Bersama Bu Kanjeng.

Orang berikutnya adalah Bapak Dedi Dwitagama. Kuliah pertama yang diikuti Cak Inin, Om Dedi menyampaikan tentang Belajar Ngeblog dan menjadi youtuber. Pernyataan Om Dedi, bahwa "Kita pernah hidup dan meninggalkan jejak kebaikan." Itulah kata-kata yang menyentuh Cak Inin sehingga benar-benar membuat blog agar ada yang bisa dikenang anak cucu dan semesta.

Selain kedua tokoh itu, tentu saja ada Omjay sendiri. Kata-kata motivasi dari Omjay yang tak terlupakan adalah, "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Tampaknya, itulah beberapa alasan Cak Inin belajar menulis. Apa yang dikemukakan para mentor menulis itu adalah alasan mengapa harus menulis.

Kesungguhan Cak Inin dalam belajar menulis berbuah sangat manis. Pertama, dari hasil resume tanggal 27 April 2020, Cak Inin berhasil mendapat hadiah berupa buku dari penerbit Andi Yogyakarta. Hadiah itu hanya diberikan pada tiga orang blogger yang beruntung yang tulisannya masuk nominasi.

Ternyata, kunci keberuntungannya adalah blog walking. Dengan melihat blog sesama peserta, Cak Inin menjadi belajar tulisan resume para peserta yang lain. Dari peserta yang resumenya terbaik ia pun mendapat inspirasi. Menurutnya ada dua orang peserta yang sangat baik resumenya. Yaitu Ibu Tere dari NTT dan Ibu Noralia Purwa dari Semarang.

Buah berikutnya adalah, Cak Inin berhasil menerbitkan beberapa buku. Hingga saat ini, Cak Inin telah menerbitkan tujuh buah buku. Ini tentu sebuah prestasi yang patut diapresiasi. mengingat ia memulai pada bulan Februari 2020. 




Buah lain yang tak kalah manisnya adalah keberhasilannya dalam menerjuni dunia penerbitan. Ini luar biasa. Dari belajar menulis buku, lalu kini juga menerjuni dunia bisnis penerbitan. Hngga saat ini, Tak kurang dari enam judul buku yang telah berhasil diterbitkannya.





Selain itu, Cak Inin mengaku bangga dan senang, karena profilnya dimuat oleh koran Jawa Pos Radar Lamongan. Menurutnya, baru dua kali namanya muncul di koran. Pertama ketika pengumuman lulus Sipenmaru. Yaitu saat lulus tes perguruan tinggi negeri. Yang kedua adalah ini. Saat dimuat sebagai penulis. 



Demikian catatan saya untuk sesi kedua. Semoga kita bisa belajar dari semangat Pak Mukminin. Seperti kata bijak yang dipegangnya. Tak ada kata terlambat untuk menjadi penulis. Man Jadda Wajada. Terus semangat. 




Terima kasih telah membaca. Masukan yang membangun sangat diharapkan demi perbaikan di postingan selanjutnya. Salam. Badrul Munir









18 komentar:

  1. Keren tulisan nya lengkap, gambar yg ad bikin menarik 🙏

    BalasHapus
  2. terima aksih Cak inin, kami menjadi lebih termotivasi setelah membaca kisanya. Matur suwun.

    BalasHapus
  3. Mantap bngt tulisannya sudah dibubuhi penghayatan namun merangkum materi yg dibahas, sukses pak...

    BalasHapus
  4. Resume yang mantap. Tinggal diolah dan dikembangkan. Semangat menulis!

    BalasHapus
  5. Selalu belajar dan belajar

    Yuk tetap saling memotivasi tuk belajar yukkk.
    Mantapppp...

    BalasHapus